Pembelian Bahan Pokok di Bandung Seperti Gula Pasir hingga Mi Instan Dibatasi

Kategori:

wbntzwhkg9lzsrtig2dm
Sejumlah jenis beras yang dijual di Pasar Minggu. Foto: Moh. Fajri/kumparan

BANDUNG, bandungkiwari – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung mulai membatasi jumlah pembelian bahan pokok di seluruh retail yang ada di Kota Bandung.

Pasalnya, Disdagin Kota Bandung melihat adanya fenomena panic buying, terutama satu hari setelah dikeluarkannya Surat Edaran Wali Kota Bandung mengenai kebijakan menghadapi pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), yaitu Minggu (15/3).

“Ada pembatasan pembelian, untuk beras 10 kilogram (kg), gula pasir 2 kg, minyak goreng 4 liter, mi instan 2 dus,” ujar Kepala Disdagin, Elly Wasliah, di Bandung, Kamis (19/3).

Hal ini dilakukan agar masyarakat tidak menimbun bahan makanan secara berlebihan.

“Bukan berarti stok kita tidak cukup, kita cukup, tetapi ini hanya untuk mengatur supaya tidak ada warga yang menimbun berlebihan. Tidak ada yang belanja berlebihan,” tutur Elly.

Meski begitu, Elly tidak memungkiri terdapat beberapa komoditas yang kian menipis persediaannya, yaitu gula putih, masker, dan hand sanitizer. Bahkan, di pasar tradisional, harga gula putih sudah mencapai Rp 17 ribu per kilogram.

“Kita sedang bekerja sama dengan Direktur Utama PD Pasar untuk memberikan pasokan sesegera mungkin kepada para pedagang di pasar tradisional, karena memang harga di pasar-pasar ini yang sudah menyentuh di Rp 17 ribu per kilogram. Tapi kami yakinkan untuk kebutuhan pokok lainnya dalam kondisi yang aman dan tersedia, tidak perlu belanja berlebihan,” tutur Elly.

Ia menambahkan, harga ini dapat kembali normal ketika gula putih yang diimpor oleh pemerintah pusat datang pada akhir Maret 2020.

“Sekarang kuota impor ditambah, dari yang tadinya 438 ribu ton sekarang 550 ribu ton dan 216 ribu ton akan datang akhir Maret ini,” lanjut Elly.

Sementara itu, terkait stok masker dan hand sanitizer, Elly menyebutkan, saat ini masih terdapat toko modern dan apotek yang menjual komoditas tersebut meskipun stoknya saat ini menipis.

“Memang diakui masker ini stoknya menipis baik di apotek maupun di gerai toko modern, tetapi perlu saya sampaikan bukan habis sama sekali, tetapi diatur penjualan agar setiap hari ada. Jadi, jamnya berapa dan kapasitasnya berapa disesuaikan dengan stok yang ada,” tutur Elly. (Assyifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.