Dalam Dua Bulan, Empat Anak di Bandung Meninggal karena DBD

Kategori:

Ilustrasi nyamuk aedes aegypti (pixabay.com)

BANDUNG, bandungkiwari – Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan wabah yang terjadi setiap tahun di Kota Bandung. Sejak Januari – Februari 2020, tidak kurang dari 452 kasus terjadi di Kota Kembang.

Merujuk data yang dihimpun oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung, dari 452 kasus itu 248 kasus DBD terjadi pada bulan Januari dan 204 kasus terjadi pada bulan Februari.

Meski jumlah kasus ini lebih kecil dibandingkan bulan yang sama pada tahun lalu, angka kematian sudah mencapai 4 orang.

“Jumlah kematian pada Januari 2 kasus dan Februari 2 kasus,” ujar Kepala Dinkes Kota Bandung, Rita Verita, di Bandung, Jumat (13/3).

Ia menambahkan, empat kasus kematian tersebut semuanya terjadi pada anak, bahkan balita. “Pada bulan Januari satu yang meninggal usia 2 tahun, yang satu usia 3 tahun,” kata Rita.

Rita menjelaskan, pasien-pasien tersebut datang dalam kondisi Dengue Shock Syndrome (DSS). “Laporan yang diberikan oleh rumah sakit, sudah dalam kondisi syok masuk ke rumah sakitnya. DSS itu memang sudah tahapan terakhir,” imbuh Rita.

Rita mengklaim kasus DBD di Kota Bandung menurun drastis dibandingkan tahun 2019. “Tahun kemarin Januari sekitar 860 kasus, Februarinya 616 kasus. Meninggal tahun lalu kalau tidak salah ada 14 orang selama satu tahun. Di bulan Januari 2 orang, di bulan Februari tidak ada,” tuturnya.

Untuk mencegah penyebaran DBD, Rita mengaku menerapkan G1RIJ, yaitu gerakan 1 rumah 1 juru pemantau jentik (jumantik).

“Setiap rumah ada 1 anggota keluarganya yang diberikan pencerahan atau dilatih untuk memeriksa apakah di rumahnya ada jentik nyamuk,” lanjutnya.

Sementara, Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengatakan, salah satu penyebab tingginya angka DBD di Kota Bandung adalah genangan dari talang air.

“Ternyata salah satu sumber aedes aegypti itu di talang-talang yang tergenang. Kemarin kita informasikan juga untuk melihat talang-talang juga, kalau memang ada yang keliatannya kemiringannya, dia cekung di tengah, itu supaya dilubangi,” ujar Yana.

Rita pun mengimbau masyarakat untuk secara rutin membersihkan tempat perindukan nyamuk aedes aegypti, termasuk talang air.

“Talang memang tempat perindukan nyamuk yang memang sulit dikontrol, sulit dilihat. Sehingga, tentunya masyarakat sekarang sudah mulai diberitahu, jangan hanya membersihkan tempat perindukan nyamuk yang biasa, seperti dispenser, tempat minum burung, vas bunga, tapi juga talang jangan dilupakan,” tutur Rita. (Assyifa)

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp