Dinas Perdagangan Kota Bandung Akan Membatasi Pembelian Bahan Pokok

Kategori:

Ilustrasi beras (pixabay.com)

BANDUNG, bandungkiwari – Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung akan membatasi jumlah pembelian bahan pokok apabila fenomena panic buying (memborong barang secara berlebihan) di Kota Bandung masih terus berlanjut. Pasalnya, beberapa retail telah melaporkan adanya pembelian secara berlebihan dari masyarakat.

Memborong barang secara berlebihan ini terjadi setelah pemerintah mengumumkan adanya pasien positif terkena virus Corona atau Covid-19 beberapa hari lalu.

“Mungkin kami, akan mengeluarkan satu kebijakan, yaitu membatasi pembelian, kalau masyarakat sudah kami imbau untuk tidak membeli berlebihan, tetapi tetap terjadi. Itu adalah opsi terakhir,” ujar Kepala Disdagin Kota Bandung, Elly Wasliah, di Bandung, Kamis (5/3).

Ia menyebutkan, saat ini stok bahan makanan untuk hampir seluruh komoditas di Kota Bandung masih dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.

“Bahkan dari Bulog pun untuk ketersediaan beras menjamin tidak akan kekurangan. Bulog juga sudah menyampaikan ada 248 ribu ton untuk Jawa Barat,” kata Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Bandung, Usep Awaludin.

Kepala Disdagin Kota Bandung, Elly Wasliah (Foto: Assyifa/bandungkiwari.com)

Meski begitu, terdapat komoditas yang saat ini tengah mengalami kelangkaan, yaitu gula putih. Pasalnya, stok yang ada untuk gula putih merupakan stok impor di tahun 2019. Sementara, untuk panen di dalam negeri baru akan dilakukan pada bulan Juni 2020.

Hal ini pun mengakibatkan adanya lonjakan harga dari gula putih, terutama di pasar tradisional. “Gula putih itu Rp12,5 ribu per kilo harga eceran tertinggi (HET) dari Kementerian Perdagangan, tetapi hari ini di pasar tradisional gula putih sekarang sudah Rp17 ribu per kilo,” tutur Elly.

Kenaikan harga juga terjadi pada dua komoditas yang diimpor dari Cina, yaitu bawang putih dan bawang bombay. “Bawang putih berada di harga Rp40 ribu dari HET Rp32 ribu,” lanjut Elly.

Menurut Usep, apabila masyarakat terus melakukan panic buying atau belanja kebutuhan pokok secara berlebihan, justru akan menimbulkan lonjakan harga yang lebih signifikan.

“Itu akan membuat supply demand tidak terkontrol, harga melonjak. Belilah sesuai kebutuhan, tidak membeli berlebihan. Kalau kita membeli secara secukupnya harga tidak akan melonjak dan ketersediaan pangan pun aman bagi masyarakat,” ujar Usep.

Selain itu, adanya panic buying justru akan menyebabkan food waste. “Jadi, bahan makanan tidak termanfaatkan,” imbuhnya. (Assyifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.