Warga Baduy Mulai Rasakan Dampak Pemanasan Global

Kategori:

Huma atau ladang, tempat warga Kampung Adat Baduy menanam padi (Foto: Mega Dwi Anggraeni)

BANDUNG, bandungkiwari – Sudut bibir Sapri terangkat merangkai senyum, ketika melihat air mulai jatuh dari langit. Kepada saya, warga Kampung Adat Baduy Dalam itu mengaku senang melihat hujan. Dengan begitu, padinya di huma atau ladang, bisa mendapat air secara alami dan akan tumbuh sampai panen datang.

Bagi warga Baduy, menanam dan memanen padi adalah bentuk ibadah sesuai kepercayaan Sunda Wiwitan yang mereka anut. Biasanya, menanam dilakukan pada awal musim penghujan atau bulan Oktober dan dipanen pad bulan Maret. Tapi belakangan, musim menjadi tidak menentu. Kadang kemarau berlangsung terlalu lama, sehingga padi terlambat tumbuh. Padahal, Sapri masih mempertahankan pengolahan ladang secara alami seperti yang sudah dilakukan nenek moyangnya secara turun temurun.

Salah satu tradisi bercocok tanam secara alami ini adalah “ngaleuweungkeun” yang berarti menghutankan kembali. Proses tersebut dilakukan selama lima sampai tujuh tahun dengan tujuan mengembalikan unsur hara pada tanah. Sambil menunggu, mereka bercocok tanam di lahan baru.

Selain itu, mereka juga menggunakan pupuk alami dengan bahan dasar cuka aren. Orang Baduy biasa menyimpan air nira aren dalam tabung bambu untuk diminum. Namun, jika disimpan terlalu lama, nira akan berubah menjadi cuka. Untuk mengubahnya menjadi pupuk, mereka biasa mencampur cuka dengan daun mengkudu atau kulit jeruk yang sudah dihaluskan.

“Selain berfungsi sebagai pupuk, larutan itu juga untuk menangkal hama,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Warga Kampung Adat Baduy hanya segelintir penduduk bumi yang sudah merasakan dampak menghangatnya suhu bumi. Perubahan iklim yang menurut penelitian panjang Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, sudah diketahui terjadi sejak tahun 1880 ini juga memengaruhi hasil pertanian dan perkebunan lainnya di seluruh dunia.

Para ilmuwan NASA yang tergabung di Goddard Institute for Space Studies (GISS) juga mencatat, suhu global di bumi terus meningkat sekitar 0.8° celcius sejak 1880. Dengan laju pemanasan kira-kira 0.15° hingga 0.20° celcius per dekade.

Sementara Lembaga Pemerintah Amerika Serikat lainnya, The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), mencatat, angka kenaikan suhu global mencapai 1.2° celsius lebih tinggi daripada rata-rata suhu bumi sepanjang abad ke-20.

Menurut lembaga yang mengamati kondisi laut dan atmosfer ini, perubahan iklim akan berdampak pada sumber air dan pangan karena kekeringan dan musim yang tidak menentu. Selain itu, gelombang panas di daratan Eropa dan Amerika semakin sering terjadi.

Indonesia tidak terkecualikan dari perubahan iklim, dengan kenaikan suhu di tertera jelas dalam peta Anomali Suhu Udara Terhadap Normal pada laman resmi BMKG. Dalam keterangannya, BMKG mencatat 2016 sebagai tahun terpanas secara global. Bulan Maret pada tahun itu juga sudah dinyatakan sebagai bulan terpanas selama 137 tahun terakhir ini.

Data tersebut merupakan hasil observasi dari setiap stasiun BMKG di semua provinsi. Kemudian dirata-ratakan sebagai nilai anomali suhu provinsi masing-masing, bila diperbandingkan dengan periode normal pada rentang waktu 1981 hingga 2010, maka tahun 2016 muncul sebagai tahun terpanas. Tahun terpanas kedua terjadi pada 2019, sementara tahun terpanas ketiga terjadi pada 2015 (Mega Dwi Anggraeni)

Leave a Reply

Your email address will not be published.