Menjaga Lingkungan dan Kebun Kopi Pakai Kotoran Sapi

Kategori:

Proses pengeringan kopi yang dilakukan Abah Yoseph di rumahnya (Mega Dwi Anggraeni)

BANDUNG, bandungkiwari – Ada banyak cara merawat pohon kopi sekaligus menjaga kestabilan lingkungan. Salah satunya dilakukan oleh Yoseph Kusniyanto di ketiga kebun kopi garapannya, di Jayagiri, Komando, dan Sukajaya, Jawa Barat.

Pria yang akrab dipanggil Abah Yoseph ini menggunakan pupuk cair hasil fermentasi kotoran sapi, serta darah ayam untuk merawat sekitar 20 ribu pohon kopinya di lahan seluas 30 hektar. Pupuk cair ini hasil eksperimen teman-temannya. Dia sendiri tinggal memperbanyaknya di rumah.

Menurutnya, pupuk ini cukup efektif untuk membuat pohon kopinya hidup sehat, meski ditanam di tanah dengan kandungan sulfur tinggi. Ketiga area kebun kopi Yoseph, terletak di ketinggan 1.200 mdpl hingga 1.700 mdpl, cukup dekat dengan Kawasan Gunung Tangkuban Parahu.

Ada lebih dari lima drum plastik di kebun rumahnya. Satu drum digunakan untuk memfermentasi kotoran sapi. Sementara drum lainnya berisi hasil fermentasi dengan campuran beberapa tumbuhan dan rempah, sesuai kebutuhan.

Untuk pengisian buah pohon kopi yang membutuhkan pupuk berkalium tinggi, Yoseph menggunakan fermentasi dicampur dengan potongan batang pohon pisang. Sementara untuk menambahkan asupan fosfor bagi pohon kopinya, dia memanfaatkan campuran darah ayam dengan kotoran dari usus ayam. Menurutnya, selain memiliki kandungan fosfor tinggi, larutan itu juga memiliki microba pengurai yang baik.

Selain untuk merawat pohon kopinya, cairan itu juga kerap dia siramkan di hutan tempat pohon kopinya tumbuh, serta di lingkungan tempat tinggalnya.

“Keseimbangan itu harus kita jaga baik-baik karena kita selalu mengambil massa yang banyak dari hutan,” katanya beberapa waktu lalu.

Yoseph memulai usahanya sejak belajar jadi petani kopi pada 2006 silam. Dia mendapat beberapa bibit kopi dan menanamnya di depan rumah. Dari beberapa varietas, ia hanya mengembangkan Typica dan Caturra. Typica tahan terhadap karat daun, tetapi tidak tahan nematoda atau cacing kecil yang bisa merusak fisik tanaman kopi. Sedangkan Caturra, varietas yang tidak tahan karat daun tetapi tahan nematoda.

Meski merawat kebunnya tanpa zat kimia, Yoseph tidak pernah mengakui pola perawatannya merupakan organik. Baginya, organik hanya istilah yang digunakan untuk menaikkan harga di pasar. Namun, pola perawatannya itu sudah menarik sejumlah pembeli dari berbagai negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Abu Dhabi. Ada juga pembeli dari Bandung, Jakarta, Jogjakarta, dan Surabaya.

Yoseph mengaku belum mau mengambil risiko meningkatkan pemasarannya. Dia khawatir tidak bisa menjaga kualitas kopinya jika pembeli bertambah. Apalagi, hingga kini hanya 10 orang yang membantunya merawat kebun, memproses kopi, hingga memilah kopi sebelum dilempar ke pasar.

“Untuk memenuhi permintaan mereka pun saya sudah kewalahan,” akunya.

Haru Prianka, Co-Founder Satu Pintu Coffee Bandung, merupakan salah satu pelanggan Yoseph. Sejak satu tahun lalu, dia menjadikan Typica dan Caturra Lembang sebagai produk tetap di coffeeshopnya. Haru mengatakan, masing-masing memiliki penggemar sendiri. Tapi, Caturra yang paling cepat habis karena jumlahnya terbatas.

“Biasanya Caturra selalu ada setelah panen. Tapi dalam sebulan bisa habis, kami juga tidak punya stok,” katanya. (Mega Dwi Anggraeni)

Leave a Reply

Your email address will not be published.