Foto: Kala Penyandang Disabilitas di Bandung Berlatih Silat

Kategori:

Anak-anak penyandang disabilitas tampak bersemangat ikut latihan Pencak Silat di Bandung, Kamis sore (6/2). (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)

BANDUNG, bandungkiwari – Ada haru dan rindu yang menyesak di ujung mata tatkala menyaksikan suguhan visual dari anak-anak istimewa yang beraktivitas dengan keterbatasan gerak dan pemahaman. Roman wajah bingung bercampur senang, melempar bayang tubuh tanggung mereka pada pelataran Gedung yang tampak murung.

Bocah-bocah istimewa itu, terus bergerak mengikuti instruksi yang seolah interupsi pada kenyataan. Mereka menerjang keterbatasan yang selalu lekat pada tubuh mereka, seiring tabuhan gamelan yang selalu melawan.

Kamis sore (6/2) itu para bocah istimewa yang tergabung dalam Asosiasi Pencak Silat Disabilitas (Apsidi), sedang berlatih Silat di SLB BC YPLAB Wartawan. Wajah mereka memancarkan antusias, meski lapangan upacara yang tidak terlalu besar itu membuat mereka susah bergerak. Ditambah gerimis yang hadir membuat mereka harus mengalah.

Anak-anak penyandang disabilitas tampak bersemangat ikut latihan Pencak Silat di Bandung, Kamis (7/2) sore. (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)

Namun mereka tetap berlatih dengan bahagia. Jurus demi jurus mengalir, diiringi tawa canda dan keisengan yang tak luput dari keseharian mereka. Pukulan mereka seperti lidah petir yang siap menghanguskan halangan di depannya.

Kemauan mereka yang keras memang menjadi muara yang menghanyutkan setiap orang yang melihatnya. Meski beberapa gerakan tampak canggung, irama terlewati, ketukan terlupakan, mereka begitu semangat.

Silat bukan sebatas bela diri di kalangan anak-anak berkebutuhan khusus. Lebih dari itu, silat menjadi terapi untuk anak-anak guna menyongsong kehidupan mereka selanjutnya.

Anak-anak penyandang disabilitas tampak bersemangat ikut latihan Pencak Silat di Bandung, Kamis (7/2) sore. (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)

“Silat memang menjadi media terapi gerak. Selain itu kami memiliki tujuan mulia seperti, membina, memupuk serta memantapkan keterampilan, ketangkasan dalam Seni Bela Diri dan Keteguhan Jiwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa,” ucap Ketua Apsidi, Dedy Ardian.

Menurut Dedy, Apsidi berdiri pada 17 Februari 2018, diawali dengan melatih dan mengenalkan seni pencak silat yang ada di sekolah.

Apsidi sendiri adalah asosiasi yang dibentuk dari aktivitas anak-anak disabilitas yang mempunyai kemampuan di bidang seni. “Seni menjadi media penting menuangkan ekspresi bagi setiap orang, termasuk penyandang disabilitas. Seni bahkan mampu menjadi sarana terapi dan ajang eksistensi bagi mereka yang berkebutuhan khusus,” katanya.

Anak-anak penyandang disabilitas tampak bersemangat ikut latihan Pencak Silat di Bandung, Kamis (7/2) sore. (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)

Dedy yang juga pengajar di SLB Bina Kasih ini tidak memungkiri jika proses latihan siswa didiknya memerlukan waktu yang lebih panjang, daripada siswa pada umumnya. Plus ditambah harus punya segudang amunisi kesabaran ketika berhadapan dengan mereka.

“Mereka itu istimewa, tanpa segudang kesabaran akan membuat keputusasaan kepada pengajar dan mereka sendiri,” katanya di sela latihan.

Pendekatan dengan mendengarkan musik dan melihat tarian, lanjut dia, bisa merelaksasi pikiran dan fisik anak-anak agar tidak semakin lemah.

Kemampuan dalam bidang seni terutama Pencak Silat menjadi sangat penting untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Selain mengolah fisik, kepekaan irama pun mengajarkan anak-anak bekerjasama dalam komposisi gerak.

Anak-anak penyandang disabilitas tampak bersemangat ikut latihan Pencak Silat di Bandung, Kamis (7/2) sore. (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)

Pada sisi lain, kegiatan tersebut mampu membangun motivasi anak-anak bahkan para orangtua dan pengajar. Tumbuh kembang anak-anak disabilitas terlihat meningkat. Bahkan mereka mampu memainkan jurus-jurus Silat dengan menggunakan golok.

“Beberapa anak kita memainkan golok, dengan sangat baik. Kemampuan ini tentu sangat membanggakan kami, karena mereka mampu melewati hambatan yang biasa ada pada penyandang disabilitas,” katanya.

Tak ayal dari kemampuan memainkan Pencak Silat mereka acapkali mewarnai berbagai kegiatan unjuk kabisa di pelbagai tempat.

Anak-anak penyandang disabilitas tampak bersemangat ikut latihan Pencak Silat di Bandung, Kamis (7/2) sore. (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)

“Minum pak,” ucap Tupel salah satu siswa SLB yang ikut berlatih, mengalihkan percakapan.

Tupel tampak lelah berlatih Silat. Namun sejak masuk sekolah, kata Dedy, Tupel tidak berhenti berbicara tentang silat.

“Senang bisa ikut silat,” ucapnya pendek seraya mendekati temannya yang sedang bermain dengan teknik jatuhan.

Tupel dan 50 siswa SLB lainnya yang menyandang tuna rungu, wicara dan grahita memang menjadi tungku yang menyalakan semangat perubahan untuk Dedy dan kawan-kawannya di Apsidi. Gerakan Apsidi membumikan Silat di kalangan disabilitas pun mendapat respons dari banyak perguruan Silat di Bandung. Menurut Dedy lebih dari 12 perguruan Silat menghubunginya untuk mendukung kegiatan tersebut.

“Mungkin karena selama ini jarang yang menyentuh kalangan disabilitas dengan Silat. Perguruan Silat umumnya mengajarkan Silat pada masyarakat non disabilitas” ucap Dedy.

Anak-anak penyandang disabilitas tampak bersemangat ikut latihan Pencak Silat di Bandung, Kamis (7/2) sore. (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari.com)

Gerimis yang deras memaksa mereka menyudahi latihan sore itu. Beberapa orangtua sudah mulai berdatangan dan anak-anak istimewa itu mulai mendapat telepon untuk segera pulang.

“Nanti latihan lagi pak?” tanya seorang anak.

“Ya, jangan lupa pake pangsi,” ucap Dedy mengingatkan mereka.

Pangsi memang menjadi identitas penting untuk latihan Silat. Beberapa di antara mereka memang tidak menggunakan pangsi, karena tidak memilikinya. Sementara matras untuk latihan pun belum ada, sebagai pengaman anak-anak berlatih.

“Fasilitas belum ada. Tapi yang penting anak-anak ada kemauan dulu berlatih,” ucap Dedy. (Agus Bebeng)

Leave a Reply

Your email address will not be published.