Hear Me, Aplikasi bagi Kesetaraan Penyandang Disabilitas Rungu

Kategori:

BANDUNG, bandungkiwari – Berawal dari pengalaman menggunakan transportasi daring, empat mahasiswi Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menciptakan aplikasi yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas rungu. Athalia Mutiara Laksmi, Nadya Sahara Putri, Safirah Nur Shabrina, dan Octiafani Isna Ariani, menggarap aplikasi yang diberi nama Hear Me sejak Januari 2019.

“Hear Me adalah sebuah teknologi yang dapat menjembatani komunikasi antara teman dengar dan tunarungu,” ujar Safirah Nur Shabrina, di Bandung, kepada bandungkiwari beberapa waktu lalu.

Perempuan yang akrab disapa Fira tersebut pun menceritakan awal mula ketika ide penciptaan Hear Me dicetuskan. Pada saat itu, ia dan ketiga temannya memesan transportasi daring. Tak disangka, sang pengemudi tak sendirian dalam menjalankan pekerjaannya, melainkan bersama sang anak.

“Anaknya minta maaf ke kita karena ada dua orang di mobil ini. Anaknya itu nemenin supirnya untuk komunikasi sama penumpang, soalnya bapaknya tunarungu. Dari situ, ide ini muncul,” tutur Fira.

Foto-foto: istimewa

Co-Founder lainnya, Fani menyebutkan, ide tersebut muncul dari Athalia yang berkeinginan untuk menciptakan teknologi yang dapat membantu disabilitas. “Akhirnya dari masalah yang pernah kita temui kemarin, coba-coba, bisa enggak sih mengubah dari suara ke bahasa isyarat,” jelasnya.

Menurut Fani, terdapat beberapa masalah yang dialami oleh penyandang disabilitas terutama rungu. Salah satunya adalah masih adanya diskriminasi dari masyarakat. Contohnya, hingga kini banyak penyandang disabilitas masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.

“Kesetaraan itu menjadi tujuan utama kita. Diharapkan dengan adanya aplikasi ini, orang dengar dengan disabilitas rungu bisa lebih mudah untuk berkomunikasi, jadi kita bisa menciptakan kesetaraan itu,” tutur Fani.

Aplikasi Hear Me sendiri telah beberapa kali diikutsertakan dalam kompetisi. Salah satunya adalah Bandung Startup Pitching Day, yang diadakan di ITB. Hear Me pun mendapatkan gelar The Most Innovative Idea dalam acara tersebut. Selain itu, aplikasi Hear Me juga turut dalam Swiss Innovation Challenge di Bali dan mendapatkan peringkat kedua. “Dari situ kita dapat kesempatan buat pitching di Swiss-nya langsung,” ujar Fani.

Bahkan, aplikasi Hear Me pun mendapatkan hibah modal sebesar Rp250 juta dari kompetisi Diplomat Success Challenge (DSCX). “Dana tersebut sangat membantu buat perkembangan (aplikasi) selanjutnya,” tutur Fani. (Assyifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.