Kondisi Air Tanah di Kota Bandung Semakin Kritis

Kategori:

Kepala Seksi Konservasi Air, Tanah, dan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Salman Faruq (Foto: Assyifa)/bandungkiwari.com}

BANDUNG, bandungkiwari – Kota Bandung yang masuk ke dalam cekungan air tanah (CAT) Bandung-Soreang kini tengah dalam kondisi yang kritis. Salah satu indikasi yang tampak adalah menurunnya muka air tanah sebesar 60-80 persen setiap tahunnya.

Saat ini, terdapat 12 kecamatan yang teridentifikasi mengalami kondisi kritis air tanah, di antaranya adalah Sukajadi, Andir, dan Sukasari.
“Pokoknya pemukiman yang padat penduduk dan disinyalir dulu banyak industri di situ,” ujar Kepala Seksi Konservasi Air, Tanah, dan Keanekaragaman Hayati Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bandung, Salman Faruq, di Bandung, Selasa (3/12).

Akan tetapi, bukan hanya industri, penggunaan air tanah oleh masyarakat pun dinilai masif dan dominan. Pasalnya, masyarakat tidak memerlukan izin dalam penggunaan air tanah. Hal ini pun menyulitkan pemerintah dalam melakukan pemantauan penggunaan air tanah oleh masyarakat.
Salman menjelaskan, terdapat beberapa hal yang menjadikan penggunaan air tanah masih diandalkan oleh domestik rumah tangga ataupun industri. Salah satunya adalah cakupan PDAM yang masih terbatas. Sementara, air tanah sangat mudah diperoleh dan dapat digunakan tanpa perlu diolah lagi.

Menurut dia, jika tidak dilakukan upaya konservasi yang lebih serius dan masif, muka air tanah akan terus menurun ke depannya. Sehingga, memungkinkan terjadinya land subsidence. “Salah satu contoh nyata yang terjadi adalah sumur yang terus menerus harus digali lebih dalam lagi dari pada sebelumnya,” kata dia.

Upaya pembangunan sumur resapan dalam pun dilakukan. Ada 7-10 titik resapan dalam dibangun dengan fokus daerah yang berbeda setiap tahunnya. Bangunan milik pemerintah, seperti sekolah, kantor kecamatan, ataupun kantor kelurahan pun dipilih sebagai tempat dibangunnya sumur resapan dalam.

“Jadi, mekanismenya adalah air hujan yang jatuh di atap bangunan tersebut diresapkan ke dalam tanah. Makanya, kita cari bangunan pemerintah kayak sekolah karena kan atapnya cukup besar, jadi potensi air hujan yang bisa diresapkan bisa cukup banyak,” tutur Salman.

Terdapat dua tipe sumur yang dibangun, yaitu dengan kedalaman 20 meter dan 60 meter. “Kita bentuknya pakai pipa dengan dimensi 6 inch, kita bor sampai 20 m atau 60 m, kita resapkan air ke dalam,” katanya.

Pembuatan sumur resapan dalam ini akan terus berlanjut tahun depan. Salman menyebutkan, Kiaracondong menjadi daerah yang dipertimbangkan untuk dilakukan pembangunan sumur resapan dalam. Mengingat, pemukiman penduduk di Kiaracondong yang dinilai semakin padat.

Selain itu, Salman juga menambahkan, mengenai koordinasi yang terus dilakukan dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Barat. Pasalnya, kewenangan terkait penurunan air tanah berada di Pemerintah Provinsi Jawa Barat. “Kita melakukan sosialisasi terus ke pelaku usaha untuk pentingnya dari konservasi air tanah ini,” katanya. (Assyifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published.