Abah Andi dan Kereta Uap dari Limbah Cikapundung

Kategori:

Abah Andi dan kereta uap hasil kreativitasnya (Foto-foto: Agus Bebeng/bandungkiwari)

BANDUNG, bandungkiwari – Matanya sedikit merah saat ditemui Bandung Kiwari minggu (4/2/2018) sore di rumahnya. Kulit keriput wajahnya, dengan ikat kepala khas Sunda bermotif Baduy menutupi rambutnya yang keriting. Jenggot yang dibiarkan tumbuh secara alami, semakin mengentalkan aura lokalitasnya.

Bagi orang awam, wajah Andi Sutisna (63) bisa jadi tampak garang. Namun sesungguhnya Abah Andi, demikian biasa dipanggil, warga Babakan Ciamis Kota Bandung, merupakan orang yang supel dan senang bercanda.

Di balik tampilan luarnya yang tampak sederhana, tersimpan daya kreatif luar biasa. Dari tangannya yang legam dibakar matahari telah lahir sejumlah kerajinan seni berbahan limbah. Beberapa karyanya seperti asesoris, pipa rokok, miniatur rumah adat, miniatur motor Harley, bahkan hingga miniatur kereta uap telah lahir dari keuletan bergumul dengan limbah.

Kereta uap yang dibuat Abah Andi memang bersumber dari limbah Sungai Cikapundung yang melintas di samping rumahnya. Bermodal keuletan dan keyakinan bapak dua orang anak yang kini memiliki empat cucu ini, mampu menciptakan kereta uap yang unik dan nyaris tidak memperlihatkan sebagai barang berbahan limbah. Terkecuali melihat dengan seksama dan telaten akan jelas terlihat beragam jenis sampah yang menempel dan bertumpuk.

Abah Andi keturunan Desa Tarogong, Garut, Jawa Barat ini tidak pernah mengenyam pendidikan seni di institusi formal. Namun berangkat dari Sekolah Teknik yang pernah diselesaikannya, Abah Andi menemukan teknik tersendiri dalam mengolah beragam miniatur dari limbah.

Seperti saat membuat kereta uap, Abah Andi hanya bermodal kalender kereta api pemberian, dirinya lalu menerjemahkan kereta utuh melalui cara pandangnya. Alhasil, kereta uap kecil mampu dibuatnya dalam waktu satu minggu. Sementara untuk ukuran yang lebih besar, perlu waktu setidaknya dua minggu.

Kekuatannya menerjemahkan gambar miniatur kereta dari kalender, tiada lain karena semasa remaja Abah Andi pengguna setia kereta api. Pengalaman Abah bergelantungan di dalam kereta terekam secara kuat dalam ingatannya. Sehingga dia masih mengingat bentuk dan karakter kereta uap masa itu yang bernama si Gombar.

Namun jangan ditanya urusan berapa harga Kereta Uap yang dibuatnya. Abah Andi pasti akan bingung berapa rupiah harga yang sepadan untuk menentukan daya kerja kreatifnya. “Bingung. Saya bikin kereta karena cinta. Jadi kalau dijual harus berapa? Mungkin Anda tahu?”Abah malah balik bertanya.

Barang seni tentu tidak punya nilai nominal yang bisa menjadi standar harganya. Meski semua bahan berasal dari limbah sungai dan pengerjaannya bermodal kopi dan rokok kretek, demikian istilah Abah Andi, bukan berarti harga kereta uap tersebut menjadi murah dan bisa sembarangan.

Ada keinginan Abah Andi untuk menjual semua koleksi miniaturnya, bukan karena persoalan suka dan tidak suka. Namun tiada lain karena keterbatasan ruang di rumahnya yang tidak mungkin lagi menampung semua produk kreatif yang dibuatnya.

“Selain karena terbatasnya ruang di rumah. Saya ingin hasil dari menjual barang ini untuk modal ‘ngoprek’ (mengutak-atik lagi karya lain),” ucap Abah Andi, seraya menikmati kopi dari gelas bambu buatannya.

Senja semakin temaram. Bandungkiwari bergegas pergi meninggalkan Abah Andi bersama kereta uap dan semburat senja yang mengigil kedinginan. (Agus Bebeng)

Leave a Reply

Your email address will not be published.